Artikel

MENJADIKAN BISNIS UMKM, BANKABLE

Saat saya mengikuti pelatihan "Pendampingan Usaha dan Penilaian Kelayakan Usaha bagi Pendamping KUMKM" tanggal 18 November 2015 yang lalu, salah satu elemen kompetensi yang harus dikuasai adalah menilai aspek keuangan pada suatu usaha. Untuk bisa suatu usaha dinyatakan layak dan "bankable" tentu saja diperlukan laporan keuangan yang mencerminkan prospek perusahaan serta menunjukkan bahwa perusahaan bertumbuh secara konsisten. Sayangnya, aspek keuangan ini sering menjadi "momok" dan banyak diabaikan oleh para UKM. Ada yang melakukan usaha dengan cukup mengandalkan "feeling" saja, sehingga merasa tidak perlu mencatat uang masuk dan keluar secara rinci. Ada juga yang tidak melakukannya karena memang tidak mampu membuatnya, tanpa mau berusaha belajar.

Kita coba ambil contoh, jika anda berbisnis toko batik dengan modal usaha Rp 60 juta, setiap bulan penjualan batik rata-rata Rp 30 juta, biaya produksi Rp 15 juta, Gaji karyawan Rp 10 juta, Biaya telpon, listrik, sewa tempat , pajak, dan lain lain sekitar Rp 10 juta , jadi total pengeluaran per bulan Rp 35 juta, artinya harus nombok Rp 5 juta setiap bulan. Jika kondisi ini terus berlangsung sampai setahun, pastinya modal awal kita yang Rp 60 juta jadi hilang lenyap tak berbekas, alias bangkrut.

Tentunya sebagai pengusaha, ada banyak cara untuk menghindarkan diri dari kebangkrutan, selain meningkatkan penjualan dengan berbagai strategi, yang lebih utama adalah memperhatikan komponen pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan artinya penjualan, tidak ada penjualan artinya tidak ada cash in flow yang masuk ke perusahaan kita, no money no business. Penjualan akan terjadi bila produk yang kita jual memenuhi kebutuhan target market kita, produk yang kita tawarkan sesuai dengan ekspektasi konsumen kita, memenuhi standard kualitas dan memiliki nilai tambah (value added) yang menjadi keunggulan produk kita diantara para pesaing. Keunggulan bisa saja dalam hal pelayanan dengan delivery, atau harga yang murah namun tetap berkualitas, atau kemasan yang unik, atau bisa juga memberi jaminan produk yang awet. Selain itu untuk menambah pemasukan, kita bisa menambah jenis bisnis yang relevan, misalnya bisnis toko batik tadi dapat menambah pemasukan dengan membuka kursus batik bagi para wisatawan, membuat sandal dan dompet HP dari bahan batik, atau juga menambah layanan jasa seserahan pengantin dari bahan batik yang cantik.

Nah, bila sisi pemasukannya sudah maksimal, sekarang mari kita ulas sisi pengeluarannya. Pengeluaran artinya biaya-biaya yang kita keluarkan yang ada hubungannya dengan bisnis kita. Jadi mutlak harus dipisahkan antara pengeluaran pribadi dan pengeluaran usaha. Kita akan focus pada pengeluaran usaha, yang harus kita tekan supaya tidak terjadi pemborosan yang tidak perlu. Semakin bijak kita mengatur biaya-biaya yang dikeluarkan, maka semakin besar profit margin yang akan kita dapatkan. Ingat, "bijak" mengeluarkan uang, bukannya "pelit" mengeluarkan uang. Sebagai contoh beberapa efisiensi yang bisa dilakukan dengan mudah oleh toko batik adalah hemat listrik, atur ruang toko agar pada siang hari cukup cahaya matahari yang masuk. Juga pastikan pintu selalu tertutup jika menggunakan AC dalam ruang toko agar tidak boros listrik. Dan di era teknologi canggih ini, kurangi penggunaan kertas dan peralatan kantor, jika memang harus menggunakan kertas, tak usah ragu untuk memanfaatkan kertas bekas untuk dokumen internal. Gunakan telpon, air dan sumber biaya lainnya dengan sebijak mungkin dan selalu memikirkan komponen biaya apa lagi yang bisa ditekan.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah menjaga hubungan baik kita dengan para supplier atau vendor, keberhasilan kita dalam melakukan negosiasi dan menjaga kepercayaan serta relationship dengan supplier, akan banyak memberikan keuntungan dalam usaha , seperti mendapatkan harga yang terbaik, jangka waktu pembayaran lebih lama, mendapat kredit barang tanpa bunga. Hal ini akan membuat kita bisa memutarkan uang lebih banyak untuk bisnis, dan akhirnya keuntungan kita menjadi semakin banyak dan bisnis terus bertumbuh.

Intinya, Semua pemasukan dan pengeluaran ini dicatat dengan rapi dan menggunakan sistem akuntansi yang benar agar bisa menghasilkan laporan keuangan yang akan sangat berguna bagi UMKM saat akan mengembangkan usahanya, dan pada saat membutuhkan pinjaman dari bank ataupun lembaga keuangan lainnya. Mari, para pengusaha UMKM , jadikanlah bisnis anda menjadi perusahaan yang Bankable !!!.

F. Sisca Diwati ( @BundaSisca)
Ketua Umum AMA Indonesia DIY
Wakil Ketua III STIEBBANK – www.KampusPencetakPengusaha.com