Artikel

MEA Di Pelupuk Mata

Baru saja tanggal 12 Desember kemarin diselenggarakan ASEAN e-Commerce Conference di Jakarta yang menghadirkan para pendekar e-commerce dan dunia ITE Indonesia dan beberapa negara ASEAN. Untuk bidang yang satu ini, potensi Indonesia sudah diakui keunggulannya di pasar ASEAN. Berdasar informasi dari Menkominfo, total transaksi online di Indonesia telah mencapai Rp 184 Trilyun dan diprediksi akan terus bertumbuh hingga 10 kali lipat dalam 5 tahun mendatang. Hal ini menjadi secercah harapan bahwa bangsa Indonesia mampu bersaing dalam kancah persaingan global.

Persaingan bebas sudah tidak mungkin terhindarkan, baik dalam pasar global maupun secara regional. Akhir tahun ini, tepatnya mulai tanggal 31 Desember 2015 kesepakatan mengenai satu kesatuan negara-negara anggota ASEAN sebagai sebuah pasar bersama yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara formal mulai diberlakukan. Sekarang sudah bukan waktunya lagi bicara siap atau tidak siap, mampu atau tidak mampu, melainkan bagaimana kita mengambil peluang dari MEA untuk bisa memimpin sektor ekonomi dan bisnis di pasar ASEAN.

Ada catatan yang harus menjadi pemikiran dan rencana aksi bagi semua pihak. MEA adalah kesepakatan antar negara ASEAN untuk membuka diri, meniadakan pembatasan dalam perputaran modal, produk, dan juga tenaga kerja. Jauh sebelum pemberlakukan MEA sebetulnya arus masuk barang dari luar negeri ke Indonesia sudah sangat kencang. Indonesia dengan ukuran pasarnya yang besar ( 43,7% dari total pasar ASEAN ) serta karakternya masyarakatnya yang cenderung konsumtif merupakan pasar yang menggoda bagi banyak negara, tidak hanya negara-negara anggota ASEAN tapi juga negara-negara Asia lain seperti China, Jepang, Taiwan, dan Korea.

Untuk konteks ini maka ada dua hal pokok yang musti dilakukan, pertama, Meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Dalam laporan The Global Competitiveness Report 2015-2016 yang dikeluarkan Forum Ekonomi Dunia (WEF), daya saing negara kita memiliki skor 4,52 dalam skala 10 dan berada pada peringkat 37 dari 140 negara di dunia atau turun 3 peringkat dari tahun sebelumnya. Bandingkan dengan daya saing negara ASEAN lainnya, seperti Singapura yang berada di posisi 2 dengan nilai 5,68. Kemudian Malaysia naik dua peringkat ke posisi 18 (5,23), dan Thailand (4,64) meski turun 1 peringkat, tetapi tetap berada di atas Indonesia dengan berada di posisi 32. Sementara Filipina dan Vietnam meski ada di bawah Indonesia, tetapi kedua negara itu berhasil naik secara signifikan. Filipina (4,39) berada di posisi 47, melompat 5 peringkat dari tahun lalu. Sedangan Vietnam (4,30) melejit 12 peringkat ke posisi 56. Faktor penentu daya saing ini tidak hanya bergantung pada kualitas produk saja, melainkan juga dipengaruhi oleh infrastruktur yang mendukung, regulasi yang berpihak, inovasi, serta tentu saja kestabilan lingkungan makro ekonomi.

Khusus berbicara tentang daya saing produk, menurut saya, kita sekarang ini dalam kondisi darurat inovasi. Memang sudah mulai banyak Inovasi yang bermunculan, namun masih kalah bersaing secara kualitas dan belum bisa menjawab kebutuhan konsumen secara global. Karena itulah semestinya pemerintah dan perguruan tinggi meletakkan perhatian yang serius terhadap pentingnya riset yang aplikatif dan dapat direalisasikan. Selain minimnya perhatian dan anggaran pemerintah untuk riset, seringkali hasil riset berhenti dan menumpuk sebagai kajian ilmiah tanpa ada dukungan dalam realisasinya karena banyaknya tarik ulur kepentingan.

Hal kedua yang harus dilakukan adalah menjadikan produk asli Indonesia menjadi raja di negeri sendiri. Hal ini bisa kita lakukan dengan menggerakkan pasar agar berpihak kepada produk dalam negeri. Saat ini secara nasional dikampanyekan gerakan Bela dan Beli Produk UKM Indonesia sebagai bagian untuk mendorong pasar berpihak. Memang tidak mudah meminta pasar untuk berpihak pada produk dalam negeri selama produk tersebut tidak atau kurang memenuhi kebutuhan konsumen. Akan tetapi setidaknya gerakan ini menyentuh semangat patriotisme masyarakat Indonesia untuk memilih menkonsumsi produk yang dihasilkan oleh saudara sebangsa sendiri. Tentu saja gerakan ini juga harus dibarengi dengan langkah aksi yang nyata untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk dalam negeri kita.

Cahyadi Joko Sukmono
Direktur Eksekutif Forbiz Indonesia
Sekjend DPN ABDSI